Apa Kabar Blog-ku.??

Add caption

Kenapa judulnya Apa Kabar Blogku.?? Iya karena saya sudah lama tak menjamah blog baru saya ini.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan saya tak lagi menjamah dan untuk membukanya hanya sekedar membaca yang sudah ada pun saya tak pernah. Banyak alasan, emang iya.! Jadi nggak perlu saya sebutkan satu-satu alasannya, karena memang terlalu klise dan membosankan.

Ada selang waktu dimana saat itu saya gunakan untuk melamunkan sesuatu, entahlah saya sendiri nggak tahu apa yang saya lamunkan. Singkat cerita, saya teringat blog saya yang terbengkalai.

Flashback, mengingat kembali awal membuat blog. Sedikit memodif tampilan interface blog demi kepuasan dan kenyamanan saya dan pengunjung blog pastinya. Karena saya berpendapat pengunjung akan merasa betah berkunjung dan membaca tulisan - tulisan kita di blog jika tampilannya menarik, Oleh karena itu, awal membuat blog saya fokuskan dulu pada tampilan yang simple tapi menarik dan nyaman buat dibaca. 

Mengingat awal-awal menulis, begitu semangat dan produktif, yaaa sebagi pemula sehari menghasilkan dua sampai tiga tulisan menurut saya sudah lumayanlah ya. Sayangnya itu nggak berlangsung lama. 

Awal Januari 2014 saya baru mengenal dan baru pertama kali mencoba menulis, mencari tahu tentang tulis menulis, memahami, mencoba, mencoba, mencoba dan pada akhirnya saya ketagihan untuk menulis. Itu hanya berlangsung sampai bulan Mei lalu.

Lama tak membuka blog, sekali membuka grafik pengunjung menjadi meningkat dan stabil. Ah sayang sekali saya berhenti memposting tulisan saya di blog ini.

Hal itu saya lakukan bulan lalu, tapi untuk sekarang...............
Apa Kabar Blogku.?

Arah yang Hilang.?

Arah yang hilang  |


Susah fokus.!
Iya, itu yang saya alami beberapa hari ini, atau bahkan dalam beberapa minggu ini. entahlah, amat susah bagi saya untuk bisa fokus dalam apapun itu. Mulai dari pekerjaan, kuliah, dan hal sepele pun susah buat fokus.  Ada apa dengan saya.? Entahlah.!!

Terlalu banyak yang difikirkan, nggak juga.??
Terlalu banyak yang di cemaskan atau dikhawatirkan, nggak juga.??
Lantas apa.?
Apa mungkin fikiran-fikiran itu yang berdatangan dengan sendirinya, tapi apa.?

Memang nampak abu-abu kisah ini, tapi inilah adanya. Saya hanya membuang beberapa fikiran dalam sebuah tulisan yang tak bertujuan ini. 

Kerja suka ngeblank / nggak fokus, Kuliah mentok / susah fokus, seperti semua itu tak kudapati. Lurruuuuuusss aja, datar, tanpa melihat sekitar dan tanpa memperhatikan rambu -----> Tanpa arah.!!
Rutinitas yang monoton memperlengkap kebutaanku akan hidup ini. 
Kemana arahku menghilang.???


Kegelisahan dari sisi terdalam bocah ingusan yang tak kentara.

Just Share
Make to be better personality
@AdbHillman

Dua Mimpi Sederhana Bocah Kebon Dalem

Judul Buku : Sepatu Dahlan
Pengarang : Khrisna Pabichara
Penerbit : Noura Books (PT Mizan Publika)
Tahun terbit dan cetakan : Cetakan I, Mei 2012, Cetakan II, Mei 2012, Cetakan III, Juni 2012
Ukuran / dimensi buku : 14 x 21 cm
Tebal buku : 392 Halaman
Harga buku :
ISBN : 978 – 602 – 9498 – 24 – 0

***




Mungkin ini terlambat. Saya baru saja menuntaskan membaca buku “Sepatu Dahlan”. Tidak salah jika buku karya Khrisna Pabichara ini adalah buku best seller. Novel karangannya selalu bermutu dan sangat inspiratif. Dengar dari seorang kerabat dekat saya serta rasa keingintahuan tentang buku Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan ini membuat saya ingin membaca halaman per halaman sampai tuntas. Seperti testimoni A. Fuadi (Penulis Buku Negeri 5 Menara), “Ini jenis buku yang bikin candu! Saya tak mampu berhenti membalik halaman sampai tamat.” Hal itulah yang saat ini saya rasakan ketika membaca novel inspiratif karya Khrisna Pabichara ini. Jika kita mengenal sosok Khrisna Pabichara, dia adalah penyuka prosa dan telah melahirkan sebuah kumpulan cerita pendek, Mengawini Ibu : Senarai Kisah Yang Menggetarkan (Kayla Pustaka, 2010). Novel ini, Sepatu Dahlan, adalah buku ke-14 yang dianggitnya.

Khrisna Pabichara lahir di Borongtammatea, Kabupaten Jeneponto, Makassar – Sulawesi Selatan pada tanggal 10 November 1975, Wauw, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Ayah dua orang putri, yang kerap disapa Daeng Marewa ini, bekerja sebagai penyunting lepas dan aktif dalam berbagai literasi. Dia bisa disapa dan diajak berbincang berbagai hal, terutama pernak-pernik #bahasaindonesia, lewat akun twitternya : @1bichara.

***

Tujuan dan latar belakang penulisan novel ini tak lain dan tak bukan, sesuai dengan pengantar dari Dahlan Iskan dalam buku ini, “Harapan saya, semoga buku ini terselip inspirasi dan manfaat di novel Sepatu Dahlan ini untuk semua pembacanya.”

***

“Mata berkunang-kunang, keringat bercucuran, lutut gemetaran, telinga mendenging …. Siksaan akibat rasa lapar ini memang tak asing, tetapi masih saja berhasil mengusikku…. Sungguh, aku butuh tidur. Sejenakpun bolehlah. Supaya lapar ini terlupakan….”
Kehidupan mendidik Dahlan kecil dengan keras. Baginya, rasa perih karena lapar adalah sahabat baik yang enggan pergi. Begitu pula dengan lecet dikakinya, bukti perjuangan dalam meraih ilmu. Ya, dia harus berjalan berkilo-kilometer untuk bersekolah tanpa alas kaki. Tak hanya itu, sepulang belajar, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukannya demi sesuap tiwul. Mulai dari nguli nyeset, nguli nandur, sampai melatih tim voli anak-anak juragan tebu.

Semua itu tak membuat Dahlan putus asa. Tak juga berarti keceriaan masa kanak-kanaknya hilang. Ketegasan sang Ayah serta kelembutan hati sang Ibu, membuatnya bertahan. Persahabatan yang murni menyemangatinya untuk terus berjuang. Dan apapun yang terjadi, Dahlan terus berusaha mengejar dua cita-cita besarnya : Sepatu dan Sepeda.

Sejak kelas 3 SR (Sekolah Rakyat), aku sering nguli nyeset. Itu kulakukan sepulang sekolah, disela-sela jadwal rutin menggembala domba. Upah nguli nyeset terus kutabung demi dua mimpi besarku – Sepatu dan Sepeda. (Halaman : 73)
Dahlan adalah bocah yang tegar dan mencoba untuk kuat dalam bertahan ditengah kehidupan yang menurutnya sangat memilukan dan menyakitkan. Meski begitu, Dahlan di didik dalam silsilah keluarga pesantren yang mampu memberikan ilmu iman dan perilaku baik, seperti salah satu judul bab dalam buku ini, Miskin Harta, Kaya Iman.
Beberapa potongan wejangan kakak Dahlan, Mbak Sofwati juga membuktikan,
“Lapar ndak berarti harus maling, Dik.”
Ojo wedi mlarat, yang penting jujur.”
“Kita boleh miskin harta, Dik, tapi kita ndak boleh miskin iman.”
“Ingat, semiskin apapun kita, Bapak dan Ibu ndak rela kalau kita, meminta-minta belas kasihan tetangga, keluarga, atau siapa saja.”
Dahlan mempunyai dua mimpi besar yang sebenarnya itu adalah mimpi yang sederhana. Hanya sepatu dan sepeda. Namun Dahlan sangat menginginkannya, dengan alasan supaya kakinya tidak lecet karena berjalan berkilo-kilo untuk menuntut ilmu dan bermain voli di sekolahnya. Sedangkan untuk sepeda, alasannya supaya tidak berangkat terlalu pagi untuk ke sekolah, jauh lebih cepat, dan tidak capek.

Dahlan suka sedih jika dia melihat teman-temannya memakai sepatu. Dia selalu teringat impian yang belum juga menjadi kenyataan, yaitu sepatu. Anehnya, beda sekali ketika dia melihat siapa pun yang sedang bersepeda, hatinya tidak berdesir, biasa-biasa saja.

Bapak Dahlan merupakan sosok yang sangat dihargai oleh Dahlan, temannya, serta warga kampung Kebon Dalem, karena beliau terkenal sebagai orang pekerja keras, dia juga sering menjadi imam serta mengajar ngaji di langgar Kebon Dalem. Suatu waktu beliau bercerita ketika sedang mengajar anak-anak Kebon Dalem di langgar dan berpesan, “Kita harus berusaha sendiri, kita harus mencari, bukan berleha-leha menunggu belas kasihan orang lain. Tetap tawakkal dan bersyukur. Rezeki akan datang dengan cara yang bisa jadi tak pernah kalian duga. Jadi, bergembiralah. Tak perlu berkecil hati karena hidup kita yang miskin seperti sekarang.”

Kutipan kalimat yang paling saya suka dan mungkin tak akan bosan mengulang kalimat itu, adalah : “Aku ceritakan kesedihanku kepada sungai, agar sungai mengajariku bagaimana mengalir tanpa sedikitpun mengeluh.” (Halaman 339)
Akhirnya Dahlan berhasil membeli sepatu dan sepeda dengan hasil melatih voli anak-anak orang kaya Pabrik Gula. Dengan pekerjaan yang menurut Dahlan ringan, melatih voli bisa mendapatkan uah yang besar. Dahlan mampu membeli sepeda temannya, Arif dan mampu membeli dua pasang sepatu, satu untuknya dan satu lagi untuk adiknya, Zain.

Hingga pada akhirnya Dahlan menyadari setelah dia menceritakan semua kesedihannya pada sungai yang mengalir, bahwa sepatu dan sepeda bukanlah cita-cita atau mimpi besar yang sebenarnya. Tetapi, Dahlan belum tahu apa cita-cita atau mimpi yang lebih besar dari sepatu dan sepeda.

Disiplin keras dan didikan tegas Bapak Dahlan menjelaskan kepadanya, bahwa tidak ada sesuatu yang bisa dia pandang enteng dan dari sana bermula nikmat kebersahajaan sebagai anak yang dibesarkan oleh lengan-lengan kemiskinan.

Rintihan dan erangan Zain, adik Dahlan, setiap menahan lapar menerangkan dengan jelas kepadanya bahwa rezeki bukanlah seperti hujan yang ditumpahkan Tuhan begitu saja. Tetapi Dahlan menyadari bahwa dia harus mencari sendiri rezeki itu, Harus.!

Bagaimana kelanjutan cerita Dahlan yang memilukan itu, banyak cerita dan kejadian yang menarik untuk kita simak, sangat inspiratif dan bikin candu untuk membacanya.  Bagaiman Dahlan bertahan hidup dalam kemiskinan.? Bagaiman Dahlan membahagiakan keluarganya.? Bagaimana Dahlan dapat berprestasi dengan keadaannya yang serba kekurangan.? Apa Dahlan akhirnya bisa memiliki sepatu dan sepeda.?

***

Kekurangan yang ada dalam buku ini adalah kesalahan dalam mencetak dan mengurutkan halaman. Ketika saya enak-enak membaca saya tidak sadar kalau saya membaca ulang halaman yang sudah saya baca sebelumnya. Saya mulai sadar karena saya beranggapan kenapa ceritanya jadi agak belibet ya, dan seperti sudah dibaca, ketika sadar dan sedikit membalik-balikkan halaman ternyata ada kesalahan dalam menata halaman, hal sepele ini cukup menggangu keasyikan dan keseriusan membaca.

Setelah saya membaca halaman 102, selanjutnya yang semestinya halaman 103 ternyata malah diulang lagi halaman 101 dan baliknya 102, kemudian baru halaman 103. (dengan catatan : Saya meminjam buku teman,  yang menurut saya itu buku bekas dan sudah di cetak ulang).

Terlepas dari kesalahan teknis dan sangat mendasar itu saya tidak bisa lagi menemukan apa yang kurang dari buku itu. Saya sangat menikmati rasa candu dalam diri saya untuk segera membuka halaman selanjutnya. Bahasa yang ringan dan logat bahasa jawanya yang kental membuat pembaca menjadi lebih muda mencerna dan enak dibaca. Ada selipan gambar sketsa yang meremajakan mata saat membaca. Sangat cantik. Banyak kisah tauladan yang inspiratif dan bermanfaat bagi si pembaca. Banyak pesan moral yang disampaikan dalam buku ini. Kita bisa banyak belajar nilai-nilai kehidupan dan mengajak pembaca untuk mampu benar-benar masuk dan berada dalam kisah itu. Pas kena di hati.

Kesan ketika saya membaca di awal-awal bab buku ini adalah gila, buku ini benar-benar buku yang bikin candu. Saya bisa meresapi tulisan Khrisna Pabichara ini dan menggebu – gebu untuk segera membalik halaman selanjutnya. Setelah membaca Trilogi Novel Inspiratif Dahlan Iskan yang pertama dengan judul  Sepatu Dahlan ini, dijamin kalian bakal nggak sabar untuk segera membaca bagian dari Trilogi Novel Inspiratif ini yang selanjutnya atau yang kedua dan yang ketiga. Saya korban candu membaca buku ini dan akan segera membaca buku selanjutnya.


Adib Hilman

Jawaban Bocah Soal Pekerjaan

Jawaban anak kecil selalu jujur. Belajarlah berkata jujur pada anak kecil.
Sekali waktu, saya pernah melontarkan pertanyaan pada adik saya. Adik saya masih berumur -/+ 8 tahun, dia baru duduk di sekolah dasar kelas 2. Dia anak bungsu dari 4 bersaudara. Dia suka sekali bermain dan beli jajan. Dia juga masih sangat menikmati masa kecilnya. Abil namanya.

Ceritanya waktu itu Abil minta uang jajan sama saya sepulang kerja. “Bang, Minta uang buat beli pentol.” sambil tangannya menengadah. “Berapa.?” Sahutku. “2000 biar dapet banyak.” Abil menjawab dengan semangat sambil senyum-senyum. Dengan sangat cepat saya mempunyai ide yang boleh dibilang licik, “Incak-Incak (Injek-injek) badan abang dulu hayo, nanti tak kasih 2000.” dengan memasang posisi untuk siap di incak-incak. Dengan semangat empat lima, Abil pun langsung menginjak-injak badan yang sudah kuperintah sebelumnya.

Waktu Abil menginjak-injak badan saya yang sedikit pegal-pegal karena pulang kerja, saya iseng bertanya, “Bil, kamu mau kerja, enak bil kerja dapet uang banyak bisa beli jajan sama mainan.?” tanpa ragu-ragu dan dengan tegas Abil menjawab, “Nggak mau.” Saya terperanga mendengar jawaban Abil, “Loh, kenapa bil? Kan enak uangnya banyak.” Mencoba meyakinkan Abil. Dengan polosnya Abil menjawab dengan sangat mudah dan tanpa beban, “nggak mau, nggak enak kerja, capek, pulangnya malem terus, nggak bisa maen. Terus dapet uangnya lama, nggak tiap hari. Males.” Saya tertawa mendengar jawaban polos Abil.

Mungkin yang adik saya lihat memang seperti itu adanya. Abil juga pernah minta uang jajan sama saya ketika lagi seret-seretnya pengeluaran. Saya pun bilang nggak punya uang, belum gajian. Besok dimintain lagi, jawaban saya juga masih sama. Hingga beberapa hari selanjutnya dia minta uang jajan sama Umah (Panggilan Ibu) atau Abi (Panggilan Ayah). Setelah sebelumnya meminta uang jajan sama Umah atau Abi, Beberapa hari kemudian Abil kembali meminta uang jajan sama saya, jawaban saya pun masih sama, kali ini saya bilang, “belum gajian bil, nggak punya uang, besok sabtu aja kalo bang udah gajian tak beliin es krim.” Abil pun dengan ringan menjawab, “Lama.e bang nggak punya uang.e (e = nya)” sambil memalingkan badan dan berjalan keluar.

Tak lama selepas percakapan itu, saya berfikir, semua yang dikatakan Abil itu benar, nggak ada yang salah. Dia berkata dari apa yang dia lihat. Yang dia tahu, yang bekerja itu punya uang banyak. Makanya dia selalu meminta uang jajan sama yang sudah kerja. Terbukti adik saya yang nomor dua, yang masih duduk di bangku SMK nggak pernah dimintain uang jajan. Yang dia tahu bekerja itu pulang sore, kadang malam, nggak bisa main sama temen. Yang dia tahu bekerja itu dapat uangnya lama, nggak tiap hari. Yang dia tahu bekerja itu capek. Ya, itu semua benar, nggak ada yang salah sedikitpun.

Aku Suka Mendung

Aku Suka Mendung ---- Images from google

Aku memang suka mendung. Tidak suka panas dan tidak suka dingin. Kenapa suka mendung.? Sekarang siapa yang nggak suka hawa yang sejuk. Sejuk disini dalam arti tidak terlalu dingin, panas juga tidak terlalu panas, matahari pun juga malu memancarkan cahayanya karena awan tebal mendominasi atap-atap langit. Seolah melindungi kita dari terik panas matahari dan menghindari kita dari kedinginan. Nikmatnya mendung.

Manusia, memang tempat salah, tempat untuk mengeluh, dan tak pernah puas. Itulah manusia. Kita mungkin sering diperlihatkan fenomena mengenai cuaca ini. Ketika matahari sangat tegas mengeluarkan teriknya, manusia mengeluh kepanasan, hawa yang panas, gerah, membuat cepat lelah dan lain-lain. Sedangkan ketika matahari malu-malu menampakkan dirinya dan di dominasi awan hitam yang pekat yang bisa menimbulkan hujan, manusia kembali berkilah, dia bilang dingin, banjir, nggak bisa keluar, ngerusak acara, mengganggu aktivitas luar dan lain-lain.

Padahal ketika panas sangat terik, kita mengharapkan hujan. Ketika hujan datang, kita mengharakan munculnya matahari. Ini bisa jadi tidak adil untuk kedua musim, kemarau dan hujan. Kita butuh penengah diantara cuaca yang tidak pernah ada benarnya di mata manusia. Hanya mendung yang bisa menjadi penengah. Ya, Mendung bisa jadi penetralisir kemarau dan hujan.

Ketika hawa panas dan terik, hanya mendung yang bisa memberi kita kesegaran. Bayangkan dan rasakan ketika anda merasa sedang gerah karena terik matahari yang menyengat, tak lama kemudian beberapa awan melindungi anda dengan menutup terik matahari yang panas dengan kumpulan awan yang menutup rapi cahaya matahari sehingga datang mendung. Kita akan merasa sejuk, semilir angin yang sangat memanjakan, seperti pelepas dahaga dari rasa haus karena gerah dan panas. Sungguh Nikmat bukan.

Mendung membawa kesejukkan, mendung membawa ketenangan, mendung membawa kenikmatan. Udah nggak panas dan nggak dingin, mendung tiba, dunia ini terasa lebih adil dan menentramkan.

Manusia memang tidak pernah puas. Ada saja diantara mereka yang bilang mendung akan sangat mengganggu aktivitas. Misal jemur pakaian atau menjemur apa saja atau mereka yang butuh terik matahari untuk aktivitasnya. Mereka mengeluh dengan kedatangan mendung. Tapi itulah faktanya.

Saya tak peduli. Bagi saya mendung tetap paling special. Saya sangat menikmati mendung. Aku suka mendung.

Adib hilman

Benar-Benar Jancok

Begini rupanya Nasi goreng Jancuk yang ORI -- Kalo yang KW mah di bungkus kertas minyak biasa tapi sama-sama jancuknya.

Benar-benar jancok, ya saya sengaja memakai judul itu. Seminggu yang lalu, saya diajak, ditraktir, boleh dibilang ditantang untuk makan Nasi Goreng Jancok yang menurut saya masih KW. Kenapa KW.? Ya, karena Nasi Goreng Jancok khas Kota Pahlawan Surabaya yang ORI ini bertempat di Restaurant Hotel Plaza Surabaya, dan bicara soal harga yang wow, memang pantas jika melihat tempat dan cara penyajiannya yang ada di Restaurant Hotel, jangan tanya berapa.? Cek langsung aja disini | Surabaya Plaza Hotel. Cara penyajian dan kokinya pun jelas beda dengan yang saya makan saat itu. Koki aslinya ada disana. Kebetulan saya makan Nasi Goreng Jancok KW itu di daerah Sidokare, Sidoarjo. Mulai dari koki, cara penyajian, tempat, dan harganyapun juga KW, hanya dengan Rp.6000,- kalian udah bisa mengumpat “jancok” kesana kemari karena kepedasan.

Mungkin untuk orang Jawa Timur terutama Surabaya sudah nggak asing lagi dengan kata-kata jancok ini. Jancok adalah umpatan yang diperbolehkan, umpatan yang sudah menjadi khas bahasa suroboyo ini adalah hal biasa yang sering dikatakan dan didengarkan oleh masyarakat-masyarakat Jawa Timur, terlebih lagi Ibukotanya, Surabaya. Asal muasal kata umpatan khas suroboyo, jancok ini saya pribadi masih belum tahu dari mana, tapi saya pernah lihat di youtube bagaimana asal muasal umpatan jancok itu, info dari teman saya. Kalo penasaran langsung berangkat ke youtube aja ya, nih saya kasih linknya | Asal mula kata jancuk.

Untuk yang belum tahu, saya akan menceritakan kembali dari artikel yang pernah saya baca tentang Nasi Goreng Jancok. Cerita dan asal mula nama kuliner khas suroboyo, Nasi Goreng Jancok ini berasal dari koki yang bekerja di salah satu restaurant, ketika seharian bekerja, Si koki pulang dengan sangat kelelahan, sesampainya dirumah ada temannya yang ingin dibuatkan Nasi Goreng yang pedas sama Si koki dengan sedikit memaksa, sampai-sampai Si koki emosi, “sek ta jancok, aku iki pegel” (Bentar dong jancok, aku masih capek) kata Si koki. Sepertinya Si koki nggak mau temennya lebih berisik, dibuatkanlah Nasi Goreng pedas permintaan teman-temannya. Karena Si koki memasak dengan keadaan emosi, Si koki memberikan porsi cabe yang banyak sekali. Singkat kata, Si koki menyajikan Nasi Gorengnya pada temannya, seteleh makan satu sendok pertama, temannya berkata, “jancok, pedese” (Jancok, pedes banget). Dari situlah inspirasi nama kuliner khas Surabaya ini tercipta.

Kembali ke laptop, eh ke topik, Hehehe. Memang sih, belakang ini sering denger dari mulut ke mulut soal Nasi Goreng Jancok yang ada di daerah Sidokare, Sidoarjo itu. Saya penasaran sebenarnya, tapi nggak ada waktu dan nggak ada duit buat nyobain kesana. Hehehe. Rezeki mamang nggak kemana, seminggu lalu saya di ajakin sama Si pacar buat makan Nasi Goreng Jancok ini, Okelah kita berangkat.

Ceritanya ini sudah dibeli dan mau dimakan :D

Dari baunya saja sudah kurang ajar, ketika saya coba makan sendok pertama, saya berkata, “emang benar-benar jancok nih nasih goreng”, pedesnya masyaallah. Beberapa sendok saya lahap dengan cepat dan menahan rasa pedas, dengan maksud supaya cepat habis. Tapi di tengah perjalanan makan, saya mulai tak berdaya, minum nggak teratur, keringat bercucuran bak sedang olahraga, mata berkaca-kaca seperti hendak mengeluarkan air mata “kepedasan” ya, bukan kesucian. Hehe. Merem melek, sangat pedas, luar biasa pedas. Meskipun sudah habis, lidah ini masih tak kuasa menahan pedasnya akibat Nasi Goreng Jancok itu, nafas mulai tersengal-sengal, hingga terselip satu kata terucap, “Benar-benar jancok”, parah, pedaaasss.